Home Jepang Sulitnya Menjadi Murid Pandai Pembuat Pedang Membuat Makin Berkurangnya Ahli Pandai Pembuat...

Sulitnya Menjadi Murid Pandai Pembuat Pedang Membuat Makin Berkurangnya Ahli Pandai Pembuat Pedang di Jepang

46
0

Meski tidak lagi digunakan untuk perang, Katana, Yakni pedang dari Jepang adalah benda yang bernilai historis dan berharga. Kehadiran pedang-pedang bersejarah tersebut di pameran musium mengundang banyak perhatian para pengunjung, baik lokal maupun turis. Sayangnya kenaikan popularitas tidak berimbang dengan masalah yang ditemui untuk mempertahankan kepopuleran dari senjata tajam tersebut.

Pada tanggal 1989, Asosiasi Pandai Pembuat Pedang Jepang menghitung bahwa ada 300 pandai besi yang sudah secara resmi terdaftar. 20 tahun kemudian, jumlah para pandai pembuat pedang tersebut hanya tersisa 188 orang saja dengan umur rata-rata yang semakin menua.

Menjadi pandai pembuat pedang berfungsi untuk melestarikan Warisan kebudayaan nasional. Untuk menjaga warisan tersebut, Tetsuya Tsubouchi berkata bahwa ada yang harus dilakukan untuk melestarikan kebudayaan nasional tersebut.

Salah satunya adalah, sang calon pandai pembuat pedang harus dilatih dan tersertifikasi untuk menggantkan para pengrajin yang sudah pensiun, dimana jika tidak maka keahlian membuat pedang tersebut bisa hillang karena waktu dan umur mentornya. Hanya saja dalam jalan ini, ada sebuah masalah besar yang menghalangi.

Tidak Diupah Selama Masa Magang

Tidak semua orang bisa langsung mengambil palu untuk menempa dan membuat pedang untuk dijual di Jepang. para penggiatnya harus menjadi murid dari sang pandai pedang yang sudah terdaftar dan tersertifikasi dengan masa mentoring selama lima tahun. Selama lima tahun, para murid tersebut tidak diupah sepeserpun.

Hal ini menyebabkan pekerjaan menjadi pandai pedang merupakan pekerjaan yang membutuhkan kerja keras yang amat ekstra yang juga menguras tabungan selama masih menjadi murid dalam pekerjaan tersebut. Jikalau tidak punya tabungan yang cukup selama lima tahun, para murid maka mereka hanya bisa bergantung pada bantuan finansial yang dimiliki dari orang tua mereka.

Orang tua di Jepang mungkin akan rela berkorban untuk membiayai pendidikan anak-anak mereka, namun amatlah sulit untuk meyakinkan mereka untuk menghidupimu selama 5 tahun untuk mendapat kesempatan di industri pandai besi dibidang membuat pedang. Sehingga Tsubouchu juga menyatakan bahwa meskipun ada jumlah peminat untuk menjadi murid pandai membuat pedang, namun sangat sedikit yang berhasil bertahan untuk menyelesaikan masa magangnya.

Itupun, jika mereka menyelesaikan masa magangnya tersebut, sang calon masih harus melewati tes sertifikasi yang biasanya berlangsung selama 8 hari namun hanya diadakan sekali setahun. Alhasil, jika si calon gagal dalam tes, dia harus menunggu waktu lama untuk mengulang mengambil tes. Diperkirakan uang modal untuk memulai bisnis pandai membuat pedang tersebut akan menggerus keuangan sekitar 10 juta Yen. (sekitar kurang dari 1,274 Milyar Rupiah). Sebuah harga yang fantastis belum kalau dihitung pengeluaran selama lima tahun tidak diupah ketika magang selama lima tahun.

Masih Harus Mencari Pelanggan

Para kolektor barang antik tidak akan sungkan untuk membeli barang masa lampai dan antik, tak terkecuali Katana yang memiliki nilai historis, namun bagaimana dengan pedang yang baru saja dibuat? oleh karena itu, Tsubouchi juga menyatakan bahwa para pengrajin pandai pembuat pedang tersebut membutuhkan pelanggan baru. Karena pelanggan yang biasa membeli pedang mereka, para penguasa tanah yang gemar berperang dijaman lampau sudah tidak ada.

Namun syukurnya, dengan meningkatnya kepopuleritas karakter anime dan video game yang bersenjatakan pedang khas Jepang semakin meningkat, segitu pula juga pas para cosplayer yang ingin tampil maksimal, meningkatkan kesadaran akan adanya katana serta menaikkan peminatnya. Utamanya di kalangan anak Muda.

Tidak cuma lelaki, perempuan juga mulai tertarik dengan alat perang khusus pria Jepang ini. Tsubouchi menyebutnya sebagai Rejiko untuk wanita remaja hingga wanita berumur 30-40 tahun yang memiliki ketertarikan akan sejarah samurai Jepang.

Tshubouchi berharap, para pelanggan baru tidaklah harus membeli katan berkualitas tingga, namun setidaknya membeli sehingga pasar dari industri ini bisa terjaga dan bangkit. Mereka bisa membeli pedang yang sesai dengan kebutuhan dan keuangan mereka sehingga tidak harus beli yang mahal. Dirinya juga berharap budaya Omamorigatana, yakni kebudayaan memberikan atau berbagi pedang sebagai Lucky charm atau jimat keberuntungan untuk merayakan hari bahagia seperti acara kelahiran atau pernikahan.

Meski begitu, dengan masyarakat Jepang yang amat mementingkan kestabilan finansial, perjuangan tersebut sepertinya akan mengalami kesulitan dalam meyakinkan orang untuk memilih berkarir sebagai pandai pembuat pedang. Kecuali mungkin jika ada bukti kuat bahwa pedang yang dipamerkan di musium memiliki ketertarikan membeli pedang untuk dirinya sendiri secara sukarela.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here